Berangkat dari pelabuhan ikan
Di atas kapal-kapal ikan yang berangkat dari Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo, Juwana, Kabupaten Pati, siswa SMK melakukan praktik kerja lapangan selama berbulan-bulan.
Di atas kapal-kapal ikan yang berangkat dari Bajomulyo, siswa SMK menjalani praktik kerja lapangan selama berbulan-bulan.
Di atas kapal-kapal ikan yang berangkat dari Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo, Juwana, Kabupaten Pati, siswa SMK melakukan praktik kerja lapangan selama berbulan-bulan.
Perlahan tapi pasti, praktik laut ini berubah rupa.
Bagi pemilik kapal, mereka menopang tenaga kerja di tengah krisis awak kapal perikanan domestik. Bagi perantara, mereka menjadi “ladang” cuan.
Bagi sebagian siswa yang belum berusia 18 tahun, PKL bisa menghasilkan uang bagen hingga belasan juta rupiah.
Saat jaring penuh ikan hendak ditarik, siswa 16 tahun itu menceburkan diri untuk mengikat tali balok jaring di bagian depan dan belakang kapal.
Di laut, ia beberapa kali bertemu ular laut. Suatu kali, nakhoda berteriak menyuruhnya menjauh dari jaring karena ada hiu di dalamnya.
Total waktu kerja Irul dalam sehari. Ia melempar dan menarik jaring, menyortasi ikan, menjahit jaring, serta membongkar muatan hasil tangkapan.
“Kalau cuaca buruk seperti badai, tetap harus mencari ikan dalam kondisi dingin.”
Ucup dan Ian pernah membongkar serta memindahkan ikan hasil tangkapan ke kapal kolekting atau kapal penampung.
Ucup menyebut sekali bongkar bisa memindahkan 50 ton, bahkan 60 sampai 100 ton, dalam setengah hari sampai sehari.
Iky menggambarkan hari-hari ketika ikan berlimpah. Ia bekerja sejak subuh, lalu kembali bekerja dari pukul tujuh malam sampai pukul satu dini hari, dengan istirahat sekitar satu jam saat makan.